Buat kalian yang tinggal di Semarang, ketika kalian mulai membaca tulisan ini, mari, lupakan sejenak panasnya kota Semarang dan ingatlah selalu Eling Bening.

Ke Semarang, Lagi

Pagi itu, Senin 25 Oktober 2021, sekitar pukul 8 pagi, saya dan seorang teman sedang bersiap menuju Semarang.

Kami berangkat dari Temanggung. Itu berarti akan menghabiskan waktu kurang lebih dua jam.

Sebelumnya, seperti biasa, sudah ada beberapa destinasi di Semarang yang saya tulis; siap untuk dikunjungi. Dan setelah semua persiapan selesai, kami berdua berangkat.

***

Kami melewati Ambarawa.

Sebelumnya, ketika saya ke Semarang dan berkunjung ke Kota Lama, yang saya lewati adalah jalan perbukitan dan berkabut. Lewat Secang kalau tidak salah.

Namun, karena kali ini kami hanya mengandalkan Maps, kami diarahkan melalui Ambarawa ini. Jalannya memang lebar dan halus, tapi lumayan panas. Beruntung, pemandangan di sepanjang jalan cukup bisa meneduhkan suasana perjalanan kami.

Desa Wisata Boromiri

Opsi Terakhir

Karena kami belum pernah lewat sini sebelumnya (saya sudah, tapi tidak hafal jalan), kami ikut saja ke mana Maps mengarahkan kami. Destinasi Semarang pertama yang hendak kami tuju mulanya adalah Wisata Lereng Kelir.

Tapi waktu itu situasinya sedikit rumit: hp teman saya tidak ada sinyal, sedangkan hp saya baterainya sudah agak rusak, cepat habis. Jadi, yang kami lakukan adalah: hp saya digunakan untuk hotspot, sementara hp teman saya sebagai navigasinya. Setidaknya hp saya jadi tidak perlu mengaktifkan lokasi, yang membuatnya semakin boros.

Berhenti sebentar di pinggir jalan, kami kembali melaju.

Jalan yang lebar dan lengang, apalagi pemandangannya yang hijau, membuat kami terlena. Kami tidak lagi memperhatikan Maps, hingga akhirnya kami baru sadar kalau tujuan kami sudah ketinggalan jauh di belakang.

Putar balik? Ah, ogah. Panas, juga buang waktu.

Kami pun mengganti destinasi kami, opsi terakhir, yang ternyata hanya berjarak sekitar 1 km dari lokasi kami saat itu dan kebetulan satu arah. 

Sekarang, yang kami inginkan hanya satu: ngiup (berteduh).

Bujangan Sebaiknya Mampir Saja

Tak lama, tibalah kami di Eling Bening, destinasi pilihan terakhir kami.

Kami langsung menuju loket agar bisa segera masuk. Dan betapa terkejutnya kami ketika mengetahui bahwa harga tiketnya Rp20.000/orang.

Dari situ kami langsung membatin, “Ini sepertinya bukan tempat wisata biasa.”

Kami sudahi dulu soal itu. Setidaknya sekarang kami sudah dapat tempat istirahat sekaligus bisa sambil “sedikit” berwisata.

Namun, semakin masuk, kami justru semakin dibuat kaget, meski tentu saja masih ada rasa penasaran bercampur lega.

“Kampret. Kampret. Kampret.” Saya bergumam pelan.

Dari bentuk-bentuknya, ini jelas lebih seperti sebuah restoran mahal daripada sebuah tempat wisata. Dan benar saja, memang seperti itulah kenyataannya.

Dengan sedikit menebalkan muka, kami melangkah masuk. Mulai basa-basi bertanya letak mushala dan toilet—tapi jujur saya memang betulan ingin kencing.

Sejumlah pelayan di situ terlihat sibuk. Namun, beruntunglah, waktu itu hanya ada dua keluarga yang sedang makan dan kebetulan isinya orang-orang tua semua sehingga kami tidak perlu malu.

pelataran restoran Eling Bening
pelataran restoran Eling Bening
lantai dua restoran Eling Bening
lantai dua restoran Eling Bening
kolam renang restoran Eling Bening
kolam renang restoran Eling Bening

Masih dengan mode jaim, kami berdua mencoba untuk melihat-lihat ke atas, lantai dua. Menakjubkan. Di sinilah bagian terbaiknya.

Selain karena kosong melompong sehingga kami bisa lebih leluasa, pemandangan di sini juga amat indah dan meneduhkan.

Dari sini, sejauh mata memandang, kalian bisa menyaksikan pemandangan Danau Rawa Pening yang begitu luas. Jalanan yang mulus berkelok, juga hamparan hijau yang membentang.

Kami sepakat, makan-makan di sini pastilah sangat nikmat. Andai kami bukan bujang tulen tentunya.

Sempat juga kami ingin naik lagi ke atas, lantai tiga atau lebih tepatnya balkon, tapi waktu itu sedang ada renovasi. Namun, melihat pemandangan dari lantai dua juga sudah puas, kok.

pemandangan dari Eling Bening
pemandangan Danau Rawa Pening
hamparan hijau dan Danau Rawa Pening
jalan setapak di taman Eling Bening
kolam renang Eling Bening
bangunan Eling Bening

Wisata Keluarga? Ingat Eling Bening

Puas duduk-duduk santai di lantai dua restoran, kami keluar menuju tempat lainnya. Kembali melihat-lihat.

Kawasan ini ternyata cukup luas. Bahkan, ada area parkir khusus bus yang itu artinya, bila memang sedang musim liburan, tempat ini akan penuh dengan wisatawan.

Tak usah menunggu liburan pun, ketika kami berkunjung juga sudah ada dua bus yang terparkir, berisi rombongan keluarga besar. Ini memang tempat wisata keluarga.

***

Walau tadi di restoran kita tidak makan, kita sudah cukup kenyang dan puas dengan pemandangan alam di kawasan Eling Bening ini.

Sembari melewati taman, teman saya menyeletuk, “Kapan-kapan kalau lagi liburan, keluarga kuajak ke sini aja, lah.”

Saya sepakat. Eling Beninig ini memang tempat yang cocok untuk berwisata bersama keluarga.

Karena itu, kepada kalian, saya cuma ingin bilang lagi: Lupakan sejenak panasnya kota Semarang dan ingatlah selalu Eling Bening.

Selamat berwisata!

Kalian punya pengalaman menarik dan informasi lebih lengkap tentang wisata Eling Bening? Atau kalian punya rekomendasi tempat wisata menarik yang ada di Semarang?

Klik di sini biar traveler lainnya juga bisa ikut baca cerita kalian!

Mari, semarakkan wisata Indonesia melalui cerita.


Informasi, Lokasi, dan Ulasan Wisata Eling Bening

AlamatJl. Sarjono, Bawen, Semarang, Jawa Tengah – 50661
Jam Buka Senin—Minggu: 08.0018.00
Harga Tiket MasukRp20.000
Parkir
– MotorRp2.000
– Mobil Rp5.000
Kalau kalian membutuhkan informasi lebih lengkap tentang wisata Eling Bening ini, kunjungi saja situs resminya.
Butuh informasi lengkap seputar wisata Semarang? Klik di sini.
Untuk melihat ulasan saya mengenai wisata Eling Bening dan juga foto-fotonya, intip ulasan saya di Google.
Artikel SebelumnyaMenara Laut, Hotel Syahdu untuk Menatap Laut
Artikel BerikutnyaQueen of The South, Menjadi Ratu di Pantai Selatan

Tinggalkan Komentar