Kami berempat bangun dalam keadaan kaget. Di lantai dua masjid, pukul 2 siang waktu setempat. Bagaimana tidak, kami yang saat itu sudah memilih tempat paling sepi pun ternyata masih bisa kecolongan. Memang benar, kewaspadaan harus selalu dijaga; di mana pun, dan sekalipun sedang bersama teman-teman.

Memburu Pencuri

Perisitiwa tak mengenakkan itu terjadi di Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang. Kami berempat, yang pada hari itu baru saja mengunjungi rumah salah seorang adik kelas, memutuskan untuk berisitirahat sejenak di masjid ini. Beberapa dari kami memang penasaran karena belum pernah mengunjunginya langsung, termasuk saya.

Semua berjalan baik-baik saja sebelum itu. Berkeliling sebentar, shalat, dan kemudian beristirahat. Sengaja saya memilih tempat di lantai dua masjid, dan kebetulan waktu itu tidak ada orang sama sekali. Kami mengambil tempat persis di samping tembok, lalu tidur. Dan ketika kami bangun sekitar pukul 2, peristiwa itu terjadi. Ponsel milik seorang kawan, Iben, telah dicuri.

Label masjid agung nyatanya tidak serta-merta membuat orang lantas mengagungkannya.

Seorang kawan yang sebelumnya sudah ikut bersama kami tapi berpisah sebentar di perjalanan, akhirnya datang. Kami bertemu di pelataran masjid, menceritakan peristiwa pencurian tersebut.

Saiful, kawan kami itu, mengonfirmasi. Belum lama ia ternyata ditawari seseorang untuk membeli sebuah ponsel. Karena gelagatnya yang mencurigakan, Saiful menolak tawaran dari orang tersebut, yang kami duga dan yakini bahwa itulah si pencuri. 

Belum ada satu jam, masih ada waktu untuk menemukan pencuri tersebut. Terlebih saat itu sudah menjelang azan Ashar, orang-orang akan berkumpul untuk shalat, dan kami bisa memeriksa satu per satu jamaah yang masuk masjid.

Hasilnya, nihil. Pencuri itu tidak ketemu, meski kami sudah berkeliling masjid untuk mencarinya. Akhirnya, dari peristiwa itu, kami semakin tersadar, bahwa tindak kejahatan sama sekali tidak mengenal tempat. Pencuri itu beraksi di sebuah masjid agung!

Selalu pasang kewaspadaan, terlebih di lokasi keramaian. Bahkan, sekalipun itu adalah masjid. Jangan sampai ada orang yang merusak acara liburan kalian.

Merasakan Kembali Suasana Dua Abad Silam

Pagi hari sebelum kami sendiri tiba di kota Semarang, seorang kawan, Abdur namanya, bercerita. Di perjalanan, katanya, bisa mengunjungi wisata Kota Lama itu bagaikan mimpi. Mungkin karena kesibukan, yang membuatnya sampai belum sempat untuk sekadar mampir berkunjung. Ia juga bercerita, kalau ia memiliki seorang kawan yang amat merindukan suasana di Kota Lama. Padahal, kawan tersebut katanya adalah orang yang suka mengurung diri.

Semua cerita itu semakin membuat saya penasaran untuk melihat, seperti apa rupa Kota Lama. Di samping itu, sekaligus sebagai penghiburan atas peristiwa siang tadi. Satu ponsel yang hilang telah membuat satu mobil gerah—sekaligus misuh-misuh. Mungkin jalan-jalan sore di Kota Lama bisa menjadi sebuah pelampiasan bernilai positif.

Kita semua, atau hampir semuanya, pasti tidak ada yang bisa meragukan kuatnya pengaruh sebuah cerita. Banyak dari kita yang tidak puas bila hanya mendengar, dan kemudian memilih untuk membuktikannya sendiri. Lalu dari situ, cerita tersebut mengalir lagi, siap untuk diceritakan kembali ke orang lain. Begitulah cerita, menyebar dan memberikan pengaruh.

Sekira pukul 4 sore, beberapa bangunan di wisata Kota Lama sudah mulai terlihat, terutama paving block-nya. Tapi ketika itu kami tidak bisa langsung masuk, harus memutar melewati jalan yang bisa dilalui mobil. Tak perlu waktu lama untuk menemukannya, jalanan kota Semarang tidak terlalu padat sore itu. 

Begitu masuk, kami segera mencari tempat parkir. Karena kami menggunakan mobil, kami mencari kantung-kantung parkir yang memang disediakan khusus untuk mobil. Namun, sayang, semua parkiran yang kami dapati ternyata menggunakan e-money untuk pembayarannya. Jadilah kami memarkirkan mobil di bahu jalan.

Dan, tibalah saatnya untuk bersenja ria di Kota Lama …

Satu per satu kami turun dari mobil. Mulai berjalan menuju keramaian, mengamati perlahan setiap lekuk bangunan yang ada di Kota Lama. Indah, semua sepakat.

Saya asli Jogja. Tentu, hampir pasti yang ada di benak kalian adalah Malioboro-nya. Itulah yang ingin saya ceritakan di sini. Meski sama-sama bersahabat untuk pejalan kaki, keduanya terasa berbeda. Antara Maliboro dan Kota Lama, masing-masing punya keasyikan tersendiri.

Bagi saya pribadi, Kota Lama menghadirkan sesuatu yang sama sekali berbeda. Bisa jadi mungkin karena saya juga baru pertama kali mengunjunginya, ya. Tapi coba kalian rasakan dan bandingkan sendiri, bagi yang sudah pernah mengunjungi keduanya. Bangunan-bangunan yang ada di wisata Kota Lama benar-benar membawa pengunjungnya berada dalam suasana lama. Suasana kuno dua abad silam, ketika Belanda masih menduduki Nusantara.

Bangunan Eropa klasik masih berdiri di kawasan Kota Lama, setelah melewati dua ratus tahun. Dan hebatnya, semuanya masih tampak cantik dan terawat. Tidak heran bila banyak pengunjung yang berfoto di sini. Berseliweran, mengambil gambar di setiap sudut bangunannya.

Namun, ada satu hal yang saya pribadi menyayangkannya—meski ya memang sudah seperti itu keadaannya. Hal tersebut adalah papan nama, haha. 

Ya, saya sampai tertawa sendiri ketika hendak memfoto sebuah bangunan cantik, tapi tepat di atasnya terpasang papan bertuliskan Jiwas****, atau Ikan Bakar **a*jur, atau apa pun itu saya lupa. Empat kawan saya juga sependapat. Terasa lucu saja, kontras.

Oh, ya, jangan lupa dengan In***aret yang berada di dekat Gereja Blenduk. Itu juga cukup mengganggu (di samping juga bermanfaat). Kalau saja yang diizinkan menempati kawasan tersebut hanya pedagang-pedagang setempat atau toko oleh-oleh khas Semarang, sepertinya suasana dua abad silam di sana akan semakin terasa.

Berpamit Bersama Senja

Berjalan-jalan di Kota Lama memang memiliki suatu kesenangan tersendiri. Meski mayoritas pengunjung menghabiskan waktunya dengan berfoto—dan mungkin memang itu profesi mereka, ada pula yang menikmati senja di Kota Lama dengan hanya duduk bercengkerama. Tanpa memegang ponsel, hanya menatap riuhnya manusia yang memadati Kota Lama.

Sudah satu jam lebih kami berada di Kota Lama. Mentari mulai berjalan menuju ufuk barat, dan langit perlahan mulai menguning. Momen yang sangat tepat untuk mengambil gambar. Beberapa dari kami seolah sudah refleks untuk mengambil ponsel masing-masing. Langit senja di Kota Lama segera diabadikan ke dalam galeri. Pemandangan yang memukau.

Akhirnya, selepas mengambil gambar dan kembali melihat-lihat bangunannya sejenak, kami berpamit dari Kota Lama, bersama senja yang sebentar lagi menjadi gelap.

Sabtu, 22 Mei 2021. Pengalaman baru di Kota Lama.

Apakah kalian punya cerita di Kota Lama dari sudut yang berbeda, atau bahkan cerita yang lebih bersejarah? Ceritain, yuk!

Mari semarakkan pariwisata Nusantara melalui cerita.


Informasi, Lokasi, dan Ulasan Wisata Kota Lama Semarang

AlamatJl. Letjen Suprapto, Kota Lama Semarang, Semarang, Jawa Tengah
Jam Buka7/24
Harga Tiket MasukGRATIS
Bila ingin mendapatkan informasi lebih lengkap seputar pariwisata Semarang, kalian bisa langsung mengunjungi situs resminya di sini.
Ini ulasan ringkas saya tentang wisata Kota Lama Semarang di Google.
  • KONTRIBUTOR TERCINTA
  • Admin
Artikel Sebelumnya20 Menit Mengejar Mentari Terbit
Artikel BerikutnyaTerjun Dalam Sebuah Keterasingan

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here