Detik-detik yang sangat menentukan, tapi justru di saat itulah saya salah mengambil keputusan. Semuanya berakhir dengan saya yang akhirnya berdiam di rumah dan harus menerima; semua sudah terjadi, apa boleh buat?

Berharap Ada yang Mengajak

Terhitung saya sudah mengunjungi Pantai Siung sekitar tiga atau empat kali. Ketika mengunjunginya bersama dua orang kawan hingga naik sampai ke atas Bukit Pengilon, saya langsung yakin bahwa bukit ini sangat pas dan aman untuk berkemah—dan ternyata memang disediakan tempat untuk itu.

Bahkan, saya sampai menuliskan perjalanan tersebut dalam sebuah artikel yang judulnya, jika mengingat kembali saat-saat itu, sungguh sangat membagongkan. Judul artikel itu adalah Seperti Apa Rasanya Berkemah di Atas Pantai?

Nah, sewaktu teman-teman satu grup Jogja tiba-tiba merencanakan untuk berkemah di sana (acaranya dadakan), saya justru mengambil keputusan untuk tidak ikut dulu. Satu dari sekian #kamvretmoment kembali terjadi pada hari itu. Saya yang sudah beberapa kali mengunjunginya, bahkan sampai menulis sebuah artikel tentangnya, tapi malah sama sekali belum pernah mencobanya.

Ya sudah. Semua memang sudah berlalu, lantas mau bagaimana lagi? Terima, lalu jalani rutinitas seperti biasa. Masih ada waktu, insyaAllah.

Namun, saya sangat berharap—dan semoga bisa terlaksana, kalau ada kesempatan lagi, saya benar-benar akan ikut. Atau barangkali ada dari kalian yang ingin mengajak berkemah di sana, saya dengan senang hati akan menyambut ajakan itu. Haha …  #mupeng

Jalan-Jalan Sendiri Itu …

Beberapa hari setelah itu, saya berniat mengunjungi sebuah destinasi yang sudah lama tidak saya kunjungi. Bukan karena pelampiasan atas yang kemarin, tapi karena masih hari-hari libur. Kali ini, dan tidak hanya sekali, saya memilih berangkat sendiri.

Jalan-jalan sendiri memang punya kenikmatan tersendiri. Tidak perlu janjian sana-sini, repot mengurus tempat kumpul dan sebagainya, belum lagi kalau ada yang ngaret (terlambat sekali), dll. 

Intinya, bagi saya pribadi, jalan-jalan sendiri itu lebih bisa on time. Memang terasa sepi karena tidak jalan bersama kawan, tapi ada kalanya kita memang hanya ingin bepergian sendiri; dan tak sedikit orang yang justru sangat menikmatinya. 

Setuju?

Pemandangan Beberapa Tahun Silam yang Masih Sama

Saya turun dari motor, tepat di parkiran, selepas perjalanan sekira satu jam dari rumah. Parkiran yang amat luas; rombongan bus bisa masuk. 

Pagi ini masih sepi, hanya ada dua-tiga pengunjung yang terlihat. Saya bergegas menuju destinasi utamanya, yang terletak di atas. Ingin melihat saja, apakah ada yang berbeda dari sejak saya mengunjunginya beberapa tahun lalu.

Sejenak berjalan mengamati sekitar, mengambil beberapa gambar, lalu berjalan cepat menaiki anak tangganya. Terus naik.

Setibanya di atas, ah … ternyata masih sama asrinya seperti dulu, bahkan sekarang pagi ini sedang sepi. Semua terasa sejuk di atas sini; waduk yang tenang, pepohonan hijau, angin sepoi, dan langit yang kebetulan sedikit mendung, menghapus terik yang dari tadi sudah menerpa di sepanjang jalan.

Ini dia, Embung Nglanggeran. Masih sama seperti dulu (yaiyalah).

foto Embung Nglanggeran tahun 2017foto panorama Embung Nglanggeran
Embung Nglanggeran tahun 2017 dan 2021

Luangkan Waktu untuk Bengong Sebentar

Angin berembus semilir dan langit sedikit mendung. Hawa-hawa kasur mulai terasa di Embung Nglanggeran, kawasan agrowisata yang berada pada ketinggian 495 mdpl ini. Puas berjalan mengelilingi waduk yang berfungsi sebagai pengairan untuk kebun sekitar, saya kembali berjalan menaiki anak tangganya. Lebih ke atas, mencari gardu pandang yang dirasa paling nyaman.

Kalau kalian berjalan lebih ke belakang, di situ ada gardu pandang yang lumayan lebar, tapi pemandangannya hanya pepohonan dan perkebunan milik warga setempat. Bila ingin mencari view yang bagus dan lebih ayem, kalian bisa memilih gardu yang berada paling depan. Tepat di mana saya mengambil gambar ini.

foto Embung Nglanggeran tampak dari atas

Di gardu inilah saya meluangkan waktu untuk bengong sebentar. Menikmati pemandangan kawasan wisata Embung Nglanggeran yang masih asri, perbukitan dan lahan hijau yang membentang luas, melihat aktivitas beberapa pengunjung dan para petani, serta yang tak kalah menarik adalah, Gunung Api Purba Nglanggeran itu sendiri.

Ia juga merupakan destinasi favorit para pengunjung, terutama bagi mereka yang ingin mencari ketenangan dan ingin lebih menikmati alam. Menatap horizon dari tempat yang lebih tinggi. Ditambah lagi, katanya, entah itu sunrise atau sunset, keduanya tampak lebih indah dari puncaknya.

Namun, sayang, bahkan di hari itu pun saya masih belum juga diberi kesempatan untuk coba menaikinya.

Ada yang sudah pernah?

Wisata Edukatif, Lengkap dari Segala Sisinya

Tepat di ujung tempat parkir, terdapat Taman Teknologi Pertanian Nglanggeran. Saya pernah memasukinya waktu pertama kali mengunjungi wisata Embung Nglanggeran. Ada banyak produk olahan kakao dan susu yang dijual di sini. Semuanya berasal dari para petani sekitar, yang diberdayakan oleh TTP tersebut.

Akan tetapi, hari ini, 19 Mei 2021, saya tidak bisa masuk ke sana, sedang ada studi dari sebuah kampus. Sebelum meninggalkan kawasan wisata Embung Nglanggeran, saya sempatkan untuk berkeliling sekali lagi di sekitar waduk, untuk kemudian turun. Mampir sebentar di sebuah warung yang terletak di pinggiran jalan setapak menuju arah keluar, kemudian ngobrol seputar konflik Palestina-Israel dengan ibu pemilik warung, haha.

destinasi wisata menarik dan edukatif di Gunungkidul, Yogyakarta
Foto Embung Nglanggeran dari atas | Foto oleh Asep Dwi Kurniawan

Daripada bengong di rumah, cobalah untuk mencari tempat bengong yang lebih berfaedah. Keluar, menuju destinasi-destinasi dekat di kota kalian yang mungkin sudah lama tidak dikunjungi, seperti yang saya lakukan di kawasan wisata Embung Nglanggeran ini. 

Kalau benar-benar dicermati, kawasan agrowisata Embung Nglanggeran ini adalah kawasan wisata yang sarat akan nilai edukasi. Selain TTP-nya yang memang dipakai sebagai sarana pembelajaran, lingkungan sekitar pun mengajarkan hal-hal yang bahkan amat jauh berbeda. Bercengkerama sepuluh-lima belas menit dengan para petani atau ibu-ibu pemilik warung, nyatanya justru membukakan wawasan baru untuk kita.

Matahari sudah merangkak naik. Hari perlahan mulai terik. Sekitar pukul 10, saya berjalan menuruni anak tangga menuju parkiran. Bersiap pulang ke rumah. Agaknya perjalanan saya kali ini sudah cukup. Di depan sana masih ada kehidupan yang harus terus dibangun, terutama bagi bujangan ora nggenah (tidak jelas) seperti saya.

Bagaimana, tertarik meliburkan pikiran di Embung Nglanggeran?

Punya cerita menarik dan edukatif saat berkunjung ke sini? Ceritain, yuk!


Informasi, Lokasi, dan Ulasan Wisata Embung Nglanggeran

AlamatNglanggeran Wetan, Nglanggeran, Kec. Patuk, Kab. Gunungkidul, DIY
Jam Buka
Sabtu—Kamis: 08.0018.00
Jumat: 12.0018.00
Harga Tiket MasukRp12.000
Bila kalian penasaran dengan informasi seputar Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran, kalian bisa mengunjungi situs resminya di sini.
Ini ulasan ringkas saya tentang wisata Embung Nglanggeran di Google.
Artikel SebelumnyaTerjun Dalam Sebuah Keterasingan
Artikel BerikutnyaDua Kilometer yang Tenang dan Menghanyutkan – Bag. 1

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here