Ide cerita ini sebenarnya muncul saat akhir-akhir ini saya belum berkesempatan pergi ke mana-mana. 

Alih-alih pergi ke tempat-tempat baru dan menuliskan ulasannya, saya justru terpikir untuk mundur jauh ke belakang, kembali ke tempat masa kecil.

Dulu …

Dulu, saya sempat beberapa tahun menghabiskan masa kecil di sini, Kel. Patehan, Kec. Keraton.

Plengkung Gading, yang berada sangat dekat dari rumah, kalau mau dibilang sebagai tempat wisata, sebenarnya tidak juga. Ia sebetulnya merupakan sebuah bangunan benteng. Meski begitu, karena bentuk arsitekturnya yang khas dan ikonik, membuatnya memiliki daya tarik tersendiri.

Plengkung Gading tampak dalam seno471
Plengkung Gading tampak dalam | Foto oleh @seno471
Plengkung Gading tampak luar
Plengkung Gading tampak luar | Foto oleh Brisik
bagian luar Plengkung Gading dari atas didit_anggiawan
bagian luar Plengkung Gading dari atas | Foto oleh @didit_anggiawan
bagian dalam Plengkung Gading dari atas dhian_hardjodisastro
bagian dalam Plengkung Gading dari atas | Foto oleh @dhian_hardjodisastro
bersepeda ke Plengkung Gading
bersepeda ke Plengkung Gading

Dulu, saya ingat suatu hari pernah main sepeda bersama sepupu saya di sekitar Plengkung Gading. Karena penasaran dengan bangunannya, saya mengajak sepupu saya untuk naik ke atas Plengkung Gading dengan sepeda.

Caranya? Ya digotong~

Jadilah selepas saya menggotong sepeda saya sendiri dan sepeda sepupu saya, kami berdua akhirnya bisa juga bersepeda menyusuri bangunan Plengkung Gading. Bangunannya memanjang dan landai, dengan tembok yang menghadap ke luar, ke jalan raya.

Waktu itu seru sekali. Rasa-rasanya ketika itu baru kami berdua saja yang pertama kali berjalan-jalan di atas Plengkung Gading dengan sepeda. Hahaha …

Alun-Alun Kidul

Bila kalian ingat pernah ke sini, atau bahkan tinggal di daerah ini, sepuluh atau belasan tahun silam, mungkin masih ingat kalau Alun-Alun Kidul (selanjutnya kita sebut “Alkid”) tidak seramai sekarang.

Dulu, bila sedang ada kerabat yang datang berkunjung, mereka pasti akan mengajak saya naik bendi keliling Alkid.

Ya, dulu, daya tarik wisata di sini tidak banyak. Sederhana saja, seperti keliling alun-alun dengan bendi. Biasanya mulai ramai saat sore hari.

Dan sekarang, seperti yang bisa kalian saksikan sendiri, Alkid menjadi tempat yang ramainya minta ampun. Ada banyak sekali sepeda tandem yang dihias dan dibentuk beraneka rupa yang, tentu saja, disewakan kepada para pengunjung. Mulai ramai menjelang sore, dan puncaknya saat malam hari.

pemandangan sepeda tandem di Alun-Alun Kidul pada malam hari albetgunawan_
pemandangan sepeda tandem di Alun-Alun Kidul pada malam hari | Foto oleh @albetgunawan_

Selain wisata sepeda tandem, di sekitar Alkid ada banyak sekali warung PKL berjejeran. Mereka menggelar lesehan di sebagian trotoar dan kebanyakan di tengah Alkid.

Pagi harinya, biasanya di sini juga ramai orang berolahraga, terutama hari Minggu. Entah itu sepak bola ataupun sekadar jalan ringan mengelilingi Alkid.

Dulu, saya ingat pernah diadakan lomba sepatu roda di sini. Juga lomba burung perkutut. Jadi, seperti di daerah lainnya, alun-alun umumnya memang menjadi tempat yang multiguna.

lomba burung perkutut di Alun-Alun Kidul
lomba burung perkutut di Alun-Alun Kidul | Sumber: Majalah Burung Pas

Oh, ya, ada juga wisata yang entah kenapa begitu menarik minat para wisatawan untuk mencobanya. 

Kalau kalian lihat, tepat di tengah Alkid ini terdapat dua pohon beringin besar. Dan bila kalian kebetulan saat malam hari melihat sekumpulan orang sedang berjalan di sekitar situ, nah, itulah wisatanya.

beringin Alun-Alun Kidul pegipegi
pohon beringin di Alun-Alun Kidul | Sumber: pegipegi

Saya tidak tahu siapa yang pertama kali memulai ide ini.

Jadi, nanti ada sebuah tantangan yang diberikan kepada para pengunjung yang tertarik, yaitu berjalan di antara kedua pohon beringin tersebut dengan mata tertutup. Katanya, jika berhasil, nanti keinginannya akan tercapai. Dan katanya pula, banyak orang yang gagal, padahal sudah yakin berjalan lurus.

Apa kalian pernah mencobanya?

Kuliner

Dulu, jika melihat masa sekarang ini, saya juga tidak menyangka kalau kedua warung ini akan begitu populer.

Kalian tahu Warung Makan Handayani dan Bakso Goyang Lidah? Keduanya adalah milik teman-teman masa kecil saya dulu.

Di Warung Makan Handayani ada teman saya, Tania, kalau tidak salah ingat. Dan di Bakso Goyang Lidah, ada Wahyu, Arifin, juga Rifki (untuk nama terakhir, saya tidak begitu yakin).

Mayoritas wisatawan yang berkunjung ke sini, pasti akan menyempatkan diri untuk mampir. Bahkan, warung ini juga menjadi langganan sejumlah pesohor.

Tentang Bakso Goyang Lidah, entah sejak kapan namanya berubah demikian. Namun, sampai hari ini, kami sekeluarga masih menyebutnya Bakso Mas Dwi. Hehe … 

Menu favoritnya, kalau di Bakso Goyang Lidah, ada mie ayam dan es campur, sedangkan di Warung Makan Handayani, empal dan brongkos juaranya.

Pokoknya jangan lupa mampir. (y)

Sejarah Singkat Plengkung Gading dan Fakta Uniknya

Sejarah Pembangunan

Plengkung Gading dibangun pada 1782 M. Ia dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwana I atau yang terkenal dengan sebutan Pangeran Mangkubumi.

Badan Pelestarian Cagar Budaya DIY menyebutkan, bahwa dulu, Keraton dikelilingi oleh parit yang berfungsi sebagai pertahanan dari serangan musuh. Parit tersebut memiliki kedalaman 3 meter dan lebar 10 meter. 

Di setiap plengkung, selain Plengkung Gading, juga terdapat jembatan gantung yang digunakan untuk menyeberang. Barulah saat musuh datang, jembatan tersebut ditarik ke atas dan digunakan untuk menutup pintu masuk tiap plengkung.

Dan pada 1935, parit tersebut dialihfungsikan sebagai jalan. Akan tetapi, tidak ada yang tahu pasti kapan ia beralih fungsi menjadi jalan.

Bangunan Plengkung Gading pernah dipugar pada 1986 untuk menjaga keaslian bangunannya.

Filosofi Plengkung Gading

Plengkung Gading juga memiliki nama lain, yaitu Plengkung Nirbaya. Nir berarti ‘tidak ada’, sedangkan baya berarti ‘bahaya’. Jadi, seperti bisa dikiaskan, bahwa dengan keberadaan Plengkung Gading ini, diharapkan tidak akan ada bahaya yang mengancam.

Karena bentuk bangunannya yang menyerupai gerbang tapi dengan bentuk yang melengkung, ia diberi istilah plengkung. Adapun pemberian istilah gading adalah karena warna putihnya yang serupa dengan putih gading gajah.

Salah seorang penjual angkringan di sekitar Plengkung Gading yang bernama Suroyo, ia menyebutkan, bahwa jika diperhatikan baik-baik, pada bagian atas bangunan plengkung ini terdapat ukiran burung yang sedang mengisap sari bunga, yang dalam bahasa Jawa disebut lajering sekar sinesep peksi.

Lajering itu artinya ‘satu’, sekar berarti angka sembilan, sinesep artinya enam, dan peksi adalah angka satu. Deretan angka itu menunjukkan waktu gapura ini dipugar terakhir kali, yaitu tahun 1961,” ujar Suroyo, Sabtu (24/07/2021).

Mitos Plengkung Gading

Disebutkan, bahwa Sultan Yogyakarta tidak boleh melewati Plengkung Gading ini selama ia masih hidup, sedangkan bila sudah wafat, hanya jenazahnya yang boleh dibawa melewatinya.

Sebaliknya, masyarakat biasa, seperti yang kita lihat, tidak dilarang untuk berlalu-lalang melewati Plengkung Gading. Namun, ketika meninggal, jenazahnya tidak boleh dibawa melewati Plengkung Gading sehingga harus mencari jalan lain.

Menara Sirene Plengkung Gading

Ada hal menarik lain selain mitos yang dimiliki Plengkung Gading, yaitu menara sirene. Ia hanya akan berbunyi setiap tanggal 17 Agustus pada pukul 10.00 yang bertepatan dengan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan, juga menjelang berbuka puasa pada Ramadhan.

menara sirene Plengkung Gading
menara sirene Plengkung Gading | Sumber: Brisik

Akses Masuk Plengkung Gading

Tidak seperti yang saya ceritakan sewaktu kecil dulu, sekarang, tepatnya mulai Juli 2021, akses menuju bagian atas Plengkung Gading ditutup dengan pagar sehingga tidak bisa bebas dimasuki.

Pemerintah kota Jogja memasang pagar tersebut karena sering sekali dijumpai orang-orang melakukan perbuatan tidak terpuji di bagian atas Plengkung Gading ini. Tidak menjaga tata krama di bangunan sakral dan bersejarah.

pagar yang menutup akses menuju bagian atas Plengkung Gading
pagar yang menutup akses menuju bagian atas Plengkung Gading | Sumber: Brisik
Sumber: Sorot | Visiting Jogja | Brisik | NingJogja | Dinpar Jogja

Akhir Kunjungan

Bagaimana, sudah puas? Atau justru malah semakin penasaran?

Buat kalian yang pernah berwisata ke sini atau bahkan kebetulan juga pernah tinggal di sini, hadiahkan beragam suvenir Plengkung Gading menarik ini kepada keluarga, kerabat, dan juga teman-teman kalian, ya!

Dan yang paling penting, jangan lupa, ajak juga mereka ke sini. (y)

Selamat berlibur!

BCA Flazz
tas serut
kaos
Mandiri e-toll
mug
tote bag

Kalian punya rekomendasi wisata menarik lainnya yang ada di Kotamadya Yogyakarta?

Klik di sini biar traveler lainnya juga bisa ikut baca cerita kalian!


Informasi dan Lokasi Wisata Plengkung Gading Nirbaya

AlamatPatehan Kidul, Kec. Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta
Jam Buka24 jam
Bila kalian membutuhkan informasi seputar pariwisata Jogja, kunjungi saja situs berikut: Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta & Visiting Jogja
[googlemaps https://www.google.com/maps/embed?pb=!1m18!1m12!1m3!1d7905.548070224595!2d110.35853003488772!3d-7.813727799999998!2m3!1f0!2f0!3f0!3m2!1i1024!2i768!4f13.1!3m3!1m2!1s0x2e7a5796f097cf41%3A0x89fc8d46097f458b!2sPlengkung%20Nirbaya%20Gading!5e0!3m2!1sid!2sid!4v1647270162475!5m2!1sid!2sid&w=600&h=450]
Artikel SebelumnyaTouring Keluarga: Wisata Nusakambangan 1.4
Artikel BerikutnyaWisata Literasi di Perpustakaan Tertinggi

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here