Minggu, 12 Desember 2021 adalah pagi yang sibuk di rumah simbah.

Dengan penghuni rumah yang cukup banyak, ditambah lagi keluarga kami, hampir semua ruangan penuh oleh aktivitas. Sepupu-sepupu yang antre bergantian untuk mandi, juga kesibukan para ibu yang tengah menyiapkan perbekalan di dapur.

Pekat, seperti kepul asap masakan yang menguar memenuhi langit-langit dapur.

Perjalanan dari Utara Menuju Selatan

Dua hari sebelumnya, kami sekeluarga masih berada di Semarang, baru saja check-out dari hotel. Sudah langsung berencana ke rumah simbah di Cilacap. Tapi tidak langsung, karena kami juga hendak mengunjungi salah seorang kerabat di Banjarnegara.

Maka dari itu, sebelum keluar dari Semarang, kami menyempatkan diri untuk membeli sejumlah oleh-oleh di sini, dan sebelumnya, di sini.

Mobil kami yang sudah penuh sesak, kembali harus disesaki oleh-oleh belanjaan yang kian menumpuk. Diletakkan di tengah, di antara para penumpang di kursi tengah dan belakang. Beberapa bahkan harus ditaruh di bawah, nyelempit.

Terbayang, ‘kan, bagaimana penuhnya mobil kami waktu itu.

Mobil berjalan, bersamaan dengan Maps yang juga telah diaktifkan. Rute diarahkan menuju Banjarnegara, rumah kerabat—atau area di sekitarnya. Bersiap untuk perjalanan cukup panjang, dari utara menuju selatan.

***

Kalian, yang mungkin kebetulan sebelumnya juga sudah pernah melakukan perjalanan yang sama dengan kami, biasanya lewat mana, bila pergi dari Semarang menuju Cilacap?

Kalau kami, lewat sini:

pemandangan jalan perbukitan di Kalibening
pemandangan jalan perbukitan di Kalibening (2)

Ya, selepas keluar dari tol Pemalang, kami terus turun, masuk Banjarnegara, hingga tiba di sini, Kalibening.

Kepada kalian, warga Kalibening yang semoga suatu hari nanti membaca tulisan ini, saya ucapkan selamat.

Bersyukurlah, pemandangan alam di daerah kalian hebat sekali. Saya sampai tidak bisa jika tidak menuliskan momen ini ke dalam cerita saya. Tak apalah tulisan ini menjadi agak panjang, yang penting foto-foto Kalibening ini bisa masuk.

***

Foto-foto tersebut semuanya diambil dari dalam mobil. Iya, termasuk foto sungai. Kami berhenti tepat di jembatan cor-coran semen. Kebetulan waktu itu memang sedang sepi.

Satu jam menyusuri jalanan perbukitan Kalibening yang naik-turun dan berkelok ini amat mengesankan. Menanjak disertai hujan deras, masuk ke hutan pinus yang kadang diselimuti kabut, turun melewati perkebunan salak, dan kemudian keluar dari bukit.

Awalnya kami pikir sudah selesai, tapi ternyata belum.

Menoleh jauh ke belakang, lihat, sebuah bukit hijau besar yang baru saja kami lalui. Dan sekarang, kami tiba di bukit berikutnya, sembari menyaksikan permukiman penduduk di bawah sana, juga sejumlah petak sawah terasering. Indah sekali.

Beruntung, hujan sudah mulai merintik. Hamparan sawah yang mulai menguning, tampak elok di depan sana.

pemandangan jalan perbukitan di Kalibening
pemandangan jalan perbukitan di Kalibening
pemandangan jalan perbukitan di Kalibening
pemandangan jalan perbukitan di Kalibening
pemandangan jalan perbukitan di Kalibening

Mobil kembali meluncur, melanjutkan perjalanan. Meninggalkan indahnya pemandangan Kalibening, jauh di belakang … 

Mengalah

Kembali ke kesibukan di rumah simbah …

Kami sudah hampir siap untuk berangkat begitu perbekalan dan sebagainya selesai dipersiapkan. Dan tiba-tiba, bapak pemandu yang akan memandu kami selama di perjalanan–yaiyalah–menelepon.

***

Jadi, sehari sebelumnya, orang tua saya sudah survei dulu ke lapangan, melihat-lihat dan mencari informasi, sekaligus menyepakati jadwal keberangkatan. Lalu disepakatilah pukul 7 (atau 8) sebagai waktu keberangkatan. Maka dari itulah kami sudah bersiap sedari pagi.

Nah, ketika semuanya telah siap, si bapak pemandu tadi mengabari kami kalau Bupati Cilacap and the genk juga ingin berlibur, yang membuat kami mau tidak mau ya harus mengalah, meski sudah janjian. Jadilah, waktu yang sebelumnya disepakati pukul 7 tadi, diundur menjadi pukul 12 siang. Tepat tengah hari.

Kehebohan kecil mulai terdengar di rumah …

***

Pukul 10 (atau 11).

Si bapak pemandu kembali menggetarkan penghuni rumah. Sang Bupati, yang awalnya sudah rencana mau liburan dan “menggeser” jadwal kami tadi pagi, ternyata malah TIDAK JADI. Mantab-mantab-mantab!

Kehebohan kembali terdengar, dan kali ini lebih besar.

Ya semoga Bapak Bupati tidak menemukan artikel ini di sela-sela kesibukan kerjanya …

***

Singkat cerita, tibalah kami di Pelabuhan Sleko.

Untuk apa?

Inilah salah satu (atau mungkin satu-satunya?) penyeberangan menuju Pulau Nusakambangan.

Ya, buat kalian yang sedang berada di Cilacap dan ingin berwisata, ini bisa menjadi pilihan wisata yang menarik. Mengitari dan menyeberang menuju Pulau Nusakambangan menggunakan kapal.

Sebenarnya mungkin ada banyak pilihan layanan wisata lainnya, tapi hari itu kami menaiki kapal Banawa Nusantara, hibah dari Kemenhub.

naik kapal Banawa Nusantara di Pelabuhan Sleko
naik kapal Banawa Nusantara di Pelabuhan Sleko
fasilitas di bagian dalam kapal Banawa Nusantara
fasilitas di bagian dalam kapal Banawa Nusantara
fasilitas di bagian dalam kapal Banawa Nusantara (2)
ruang kemudi kapal Banawa Nusantara
ruang kemudi kapal Banawa Nusantara
kapal Pertamina
kapal Pertamina
pintu masuk menuju Pulau Nusakambangan
pintu masuk menuju Pulau Nusakambangan
meninggalkan laut lepas
Karena kami satu keluarga besar, kami menyewa langsung kapal tersebut. Namun, kalian bisa juga menaikinya dengan harga perorangan, dengan minimal jumlah penumpang tertentu.
kartu wisata kapal Banawa Nusantara
kartu wisata kapal Banawa Nusantara

Kapal tersebut, demi memenuhi sejumlah persyaratan yang diajukan, sudah dilengkap dengan fasilitas dan perangkat lengkap terkini untuk menunjang keamanan dan kenyamanan penumpang selama berwisata menuju Pulau Nusakambangan.

Karena itu, tidak perlu ragu mengajak keluarga atau teman-teman berwisata menggunakan kapal ini.

Nanti, oleh sang pemandu, kita akan diajak mengitari Pulau Nusakambangan hingga sampai di ujungnya. Baru kemudian balik lagi.

Kita tidak bisa melewati ujung pulau karena katanya, ombaknya terlalu besar. Tidak ideal untuk sebuah kapal kecil yang membawa banyak penumpang.

Di beberapa titik, jika memang memungkinkan, kita bisa juga minta turun di salah satu pantai pesisir Pulau Nusakambangan. Waktu itu kami sempat turun di Pantai Karang Tengah, berkeliling, hingga masuk ke Benteng Klinker.

berlabuh di dermaga Pantai Karang Tengah
berlabuh di dermaga Pantai Karang Tengah
dermaga Pantai Karang Tengah
dermaga Pantai Karang Tengah

Beruntung sekali, siang itu cuaca cerah. Langit dan laut seakan berebut tempat, memamerkan pesona masing-masing.

laut dan langit biru di Nusakambangan
bagus buat wallpaper, nih
Pulau Nusakambangan dan laut yang biru
ini juga

Bagaimana, tertarik?

Biar lebih terasa suasananya—dan supaya lebih penasaran, kalian lihat saja video saya ini:

Menarik, ‘kan?

Selamat berlibur di Cilacap!

Kalian punya rekomendasi wisata menarik lainnya di Cilacap?

Klik di sini biar traveler lainnya juga bisa ikut baca cerita kalian!


Informasi, Lokasi, dan Ulasan Wisata Bahari Cilacap

AlamatJL. Seleko, Tambakreja, Cilacap Selatan, Kab. Cilacap, Jawa Tengah – 53213
Jam Buka Senin—Minggu: 09.0015.00
Harga Tiket
Tarif Siang: Rp35.000/orang (minimal 20 penumpang)
Tarif Malam: Rp50.000/orang (minimal 15 penumpang)
Parkir Pelabuhan Sleko
Motor: Rp2.000
Mobil: Rp5.000
Bila kalian membutuhkan informasi lebih lengkap, kalian bisa mengunjungi akun resmi Instagram-nya.
Mohon maaf saya belum menemukan akun mereka untuk diulas di Google
Artikel SebelumnyaTouring Keluarga: Cimory On The Valley 1.3
Artikel BerikutnyaPulang ke Plengkung Gading

Tinggalkan Komentar