Sebelum cerita ini dimulai, terlebih dahulu saya menyatakan bahwa saya berlindung dari dosa membuat clickbait yang menyesatkan.


Jadi, waktu itu, di rumah simbah saya di Maos, Kabupaten Cilacap, saya dan tiga orang teman tengah bersiap untuk pergi ke sebuah pantai. Sebenarnya tujuan awal kami adalah Ciamis; salah satu teman saya ingin bernostalgia di sekolahnya dahulu. Namun, karena letaknya yang tak jauh dari pantai, kami batalkan niat tersebut dan lebih memilih untuk ke pantai saja.

H-1 keberangkatan, saya meminta ketiga teman saya itu untuk berkumpul dulu di sini, di rumah simbah. Hal itu untuk memudahkan dan memantapkan perencanaan, juga agar perjalanan kami tidak terkesan terburu-buru atau dadakan.

Saya sendiri memang lebih suka ribet di awal, yang penting di akhirnya tinggal menikmati, karena semuanya sudah siap dan direncanakan dengan baik.

Pantai yang kami tuju ini terletak di sebuah kabupaten yang masih berusia muda (berdiri tahun 2012). Ia memekarkan dirinya dari Kabupaten Ciamis dan berdikari menjadi sebuah kabupaten, setelah sebelumnya merupakan kecamatan.

Ya, berbatasan dengan Kabupaten Cilacap di timur, inilah Kabupaten Pangandaran.

Recehan yang Tidak Boleh Direcehkan

Walau jarak perjalanan dari Cilacap menuju Pangandaran hanya sekitar 2—3 jam, segala hal yang kira-kira bakal kami butuhkan selama di perjalanan sudah kami siapkan semua. Jarak itu sendiri sebetulnya relatif: bisa jauh, bisa juga dekat; tergantung pengalaman bepergian tiap orang yang tentu berbeda-beda. Hanya saja, karena piknik ini adalah piknik ala bujangan yang hendak menggembel, justru itu semuanya harus dipersiapkan dan direncanakan dengan baik, agar tidak benar-benar menjadi gembel. Hahaha …

Dan salah satu yang harus selalu siap sedia, setelah bensin dan angin ban yang terisi penuh, adalah uang tunai

Bagi saya sendiri, ini penting. Tidak semua tempat yang akan kita tuju terdapat ATM di sana. Pun ketika nanti bila di jalan terjadi sesuatu, setidaknya kita masih memegang uang untuk sekadar berjaga-jaga.

Kemudian, jangan lupa untuk memecah uang-uang tadi. Dalam kehidupan ala gelandangan, yang receh-receh justru lebih berharga dan lebih berguna. Pecahkan saja di Indomaret dkk. Tak usah tega-tega amat; duit mereka selalu berputar, kok.

Benar saja, belum ada satu jam kami di perjalanan, salah satu ban motor kami ada yang bocor (kami berempat, dengan dua motor). Beruntung ada bengkel tambal ban yang berada tak jauh dari tempat kami berhenti, sehingga tidak perlu menuntun motor terlalu jauh.

Di momen-momen seperti inilah, recehan menjadi sesuatu yang bukan main berharganya.

Hampir Menggembel

Kami berangkat dari Cilacap sekitar pukul 1 siang, mendekati pukul 2. Lalu tiba di kawasan wisata Pantai Pangandaran kira-kira pukul 16.30.

Awalnya kami mengira dan yakin kalau persiapan kami sudah benar-benar matang. Namun, ternyata belum, bahkan semakin terlihat konyolnya tepat ketika kami tiba di Pantai Pangandaran ini. Entah kenapa hal itu bisa tak terpikirkan sama sekali oleh kami berempat, padahal ia merupakan salah satu yang paling penting dalam sebuah perjalanan: tempat menginap.

Begitu masuk di kawasan wisata Pantai Pangandaran dan melihat ramainya pengunjung, kami ikut-ikut saja dan terbuai menikmati suasana. Namanya juga liburan. Barulah ketika hari semakin gelap, kami sadar kalau kami tidak tahu hendak tidur di mana malam ini. Akhirnya kami memutuskan untuk berpencar, menjadi dua, seperti saat di perjalanan. Sederhana saja; intinya, begitu ada yang menemukan tempat bermalam, langsung lapor.

Pantai Barat Pangandaran
Pantai Barat Pangandaran

Saya awalnya berusaha mencari penginapan melalui Traveloka, memfilter penginapan yang masih tersedia dengan harga yang sesuai. Sepakat, usahakan tidak lebih dari 400rb/malam (bagi rata 100rb/orang, hehe). Tapi nihil, tidak ada. Pantai Pangandaran di hari itu benar-benar penuh. Saya dan Rijal pun mencoba untuk berkeliling, menyusuri tiap gang dan jalan kecil di kawasan ini. Sempat ditawari kamar yang kebetulan masih kosong, tapi sayang, harganya 500rb/malam.

Sore itu, Sabtu 8 Juni 2019, menjadi sangat heboh. Hari sudah mendekati Maghrib, sedangkan kami belum shalat Ashar, dan belum juga menemukan tempat menginap. #kamvretmoment benar-benar menjadi sebuah keniscayaan waktu itu. Saya sendiri bahkan sampai geger hingga memarahi Rijal yang sejatinya tak berdosa; dan sampai sekarang saya justru merasa berdosa jika mengingat kembali hari tersebut. Hahaha …

Berbeda dengan kami yang heboh keliling enggak jelas, dua kawan kami yang lain ternyata justru sedang khusyuk menghayati kehidupan—lebih tepatnya santai sambil rebahan—di teras sebuah masjid. Masjid itu, seingat saya, berwarna putih, dengan pintu dan jendela kaca yang lebar-lebar semua. Terletak di tengah-tengah lapangan rumput, berada sedikit agak jauh dari permukiman dan deretan pengingapan kawasan wisata. Waktu itu, tak jauh dari masjid, juga sedang ada pasar malam.

Ya, inilah kesalahan fatal kami, terutama saya, yang hanya memikirkan apa yang akan terjadi di jalanan, tapi justru melupakan apa yang paling dibutuhkan ketika sudah sampai di tujuan.

Belajar dari kesalahan kami, kalian yang memang ingin berlibur ke suatu tempat sebaiknya mempersiapkan semua rencana perjalanan dengan lengkap, ya. Bila perlu, dari sejak keberangkatan sampai pulang kembali ke rumah. Tak apalah rempong (ribet) sedikit di awal, asalkan bisa nyaman dan tenang selama liburan.

Jodoh Tak Akan Ke Mana

Sebelumnya, ketika sedang sibuk-sibuknya mencari penginapan, kami sempat ditawari penginapan oleh seseorang (baca: calo), tapi saat itu kami belum tertarik. Masih ada waktu untuk mencari tempat lain, pikir saya waktu itu.

Eh, ternyata, jodoh memang tak ke mana.

Sebelum azan Maghrib berkumandang, saya memutuskan untuk menemui calo tadi dan akhirnya kami deal. Shalat Maghrib di masjid itu pun bisa kami laksanakan dengan tenang karena sudah dapat tempat untuk menginap.

Bujang Tulen

Sekarang tiba saatnya untuk pilih-pilih kamar. Penginapan yang kami tempati ini bangunannya standar-standar saja; tidak mewah, tapi juga tidak kumuh. Warna putih-abu, dengan dua tingkat.

Karena uang hanya seadanya, kami memilih kamar yang juga apa adanya, yang penting bisa tidur.

Ada dua kamar yang ditawarkan kepada kami: kamar pertama, dengan AC, biaya 450rb/malam; kamar kedua, tanpa AC, biaya 350rb/malam. Pilihan kami jatuhkan pada kamar kedua, kamar tanpa AC. Lagi pula, apa artinya AC untuk dipakai semalam? 

Tapi ingat, ini hanya pandangan pribadi kami. Sah-sah saja kalau kalian lebih memilih kamar yang ber-AC; sesuaikan saja dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.

Malam itu, di kamar seluas 3 x 3 m (atau 4 x 4) dengan kasur dipan besar yang hampir memenuhi ruangan, dan kamar mandi kecil yang tinggal lompat dari kasur saja sudah bisa masuk, kami mengistirahatkan badan ini, untuk siap-siap berwisata esok hari.

Jangan tanya bagaimana kami tidur. Saya, Rijal, dan Saiful, alhamdulillah bisa tidur di kasur. Adapun kawan saya yang satu lagi, Bani, dengan besar hati rela tidur di lantai; tepat di bawah kaki kami, di depan pintu. 

Memang sungguh betapa mulianya jiwa kawan saya yang satu ini.

Gelandang yang Nyultan

Kalian yang memang hobi renang, pasti tidak akan bosan kalau diajak main ke laut. Pun dengan Pantai Pangandaran, ia takkan pernah jenuh untuk menyambut.

Malam harinya, setelah sebelumnya kami berempat jalan kaki keliling mencari informasi wisata di sini, saya sempatkan untuk menelepon salah satu penyedia layanan wisata di Pangandaran. Dari informasi yang kami dapatkan, intinya, biaya yang mereka tawarkan sangat kurang cocok untuk kami yang saat itu sedang menggelandang. Kami pasrah; setidaknya tidur saja dulu, besok kita pikirkan lagi.

Esok harinya, pagi-pagi sekali, kami berjalan menuju pantai. Beberapa perahu terlihat sudah hilir mudik mengantar dan menjemput para wisatawan. Tujuannya tak lain adalah Pantai Pasir Putih Pangandaran.

Waktu itu kami baru bisa melihat-lihat saja, ndomblong. Namun, tak lama kemudian, datang seorang bapak-bapak menawari tumpangan perahu untuk kami. Setelah kami berembuk dan saling mengintip dompet masing-masing, akhirnya kami sepakat. Lumayan, sayang juga kalau di sini hanya melamun.

Harga yang ditawarkan relatif terjangkau, dan itu sudah antar-jemput. Kalau include dengan snorkeling, tarifnya 100rb. Kalau hanya naik perahu, tarifnya 50rb. (mungkin sekarang sudah berbeda)

Kalian mungkin bisa mencobanya—tapi jangan ikut-ikutan ndomblong juga. Cari saja orang-orang yang memakai pelampung bertuliskan nama-nama tertentu. Yang kami tahu itu adalah nama untuk para penyedia layanan wisata di sini. Nama yang tertera di pelampung biasanya sama dengan yang ada di perahu. 

Dengan ini, meski seadanya, setidaknya kita masih bisa mendapatkan pelayanan yang, tentu saja, hemat.

Serasa menjadi sultan. Benar, ketika wisatawan lain terlihat bergerombol dalam satu perahu (entah, mungkin memang satu keluarga ya), kami bisa dengan leluasa menaikinya berempat. Haha … benar-benar puas rasanya.

Terus Jelajahi Kampung (Mantan) Menteri Ini

Meski terkenal dengan wisata pantainya, Pangandaran tentu saja lebih luas dari itu. Selain snorkeling, cagar alam, dan Green Canyon, masih ada banyak destinasi menarik lain yang sangat layak untuk kalian kunjungi.

Pada akhirnya, kami sama sekali tidak berbohong. Hari itu, sejuta lebih wisatawan tengah memenuhi kampung (mantan) menteri tercinta kita, Bu Susi. Jadi, kapan kalian mau ikut menyusul?


Kalian sudah pernah ke mana saja selama di Pangandaran? Ceritain, yuk.


Informasi, Lokasi, dan Ulasan Pantai Pangandaran dan Pantai Pasir Putih Pangandaran

AlamatDs. Pananjung, Kec. Pangandaran, Kab. Pangandaran, Jawa Barat
Jam BukaSenin—Minggu: 09.0021.00
Harga Tiket Masuk
– Pejalan KakiRp6.000
– Sepeda MotorRp14.000
– Sedan/JeepRp37.500
– Mini Bus KecilRp65.000
– Mini Bus BesarRp92.500
– Bus KecilRp126.000
– Bus SedangRp188.000
– Bus BesarRp310.000
Untuk mendapatkan informasi lengkap mengenai pariwisata Pangandaran, kalian bisa langsung mengunjungi situs resminya di sini.
Ini ulasan ringkas saya tentang Pantai Pangandaran dan Pantai Pasir Putih Pangandaran di Google.
  • KONTRIBUTOR TERCINTA
  • Admin
Artikel SebelumnyaSeperti Apa Rasanya Berkemah di Atas Pantai?
Artikel BerikutnyaSensasi Menyeberangi Tepi Laut

2 KOMENTAR

  1. Jadinya sampai (pusat kota) Ciamis gak Mas? Atau cuma sampai Pangandaran saja haha. Karena sekarang dua lokasi tersebut sudah berbeda kabupaten, jadinya agak rancu kalau menyebutkan Pangandaran adalah bagian Ciamis haha.

    Kebetulan saya sekarang tinggal di Ciamis dan apabila ada rekomendasi things to do in Ciamis, jangan lupa dikabarkan ya!

    • Ngga, mas. Saya cuma di Pangandaran-nya aja. Iya bener, mas, emang udah beda kabupaten, hahaha.

      Nah kebetulan nih, mas, saya Desember rencana insyaAllah mau ke rumah simbah di Maos, Cilacap. Misal mas Arif ada mau ngajak main ke destinasi mana gitu di Ciamis atau sekadar ketemuan aja, yok lah. Gasss. Pertama kalinya ni saya bisa ketemu travel blogger kawakan. Itung2 juga siapa tau nanti bisa dibikin konten kolaborasi di blog masing2 kan, hahaha..

      Japri aja, mas, misal emang mau diagendakan

Tinggalkan Balasan