Pagi, 4 Mei 2022, di rumah simbah. Sudah H+2 lebaran. Sejak awal, kami sekeluarga memang tidak berencana mengunjungi tempat-tempat wisata mana pun saat mudik ke Cilacap. Namun, karena didorong oleh kegabutan, hari itu, saya dan seorang sepupu berpikiran lain: bersepeda.

Ke Pantai Sodong

Sekitar pukul 6 pagi, entah siapa yang mulai, salah satu dari kami berdua tiba-tiba mengajak bersepeda. Ke mana? Tidak tahu, yang penting jalan saja dulu.

Saat sedang di Maos, Cilacap, biasanya kami kalau ingin bersepeda tak akan jauh-jauh dari area persawahan. Sekadar menyusuri jalan memanjang yang diapit hamparan sawah yang membentang luas, lalu bila dirasa sudah bosan, kembali lagi ke rumah.

Akan tetapi, kali ini, sepupu menawarkan tujuan lain: pantai. Wah, menarik.

Dari Maos, jarak menuju pantai-pantai yang ada di Cilacap memang cukup jauh. Jadi penasaran, pantai mana yang hendak dituju.

Lalu tidak lama, sepupu kembali menyeletuk, “Atau ke Srandil, di sana ada penangkaran penyu, tapi enggak tahu pas buka atau enggak.”

Okelah, jalan. Kebetulan ada dua sepeda yang menganggur, langsung kami ambil saja.

***

Tiba di lampu merah Adipala, kami berhenti sebentar, menghitung jarak. Dari Maos hingga ke titik kami berhenti, ternyata sudah 7 km lebih kami lalui. Dan untuk ke Pantai Sodong, masih ada sekitar 8 km lagi.

jarak dari Maos Kidul ke Pantai Sodong
jarak dari Maos Kidul ke Pantai Sodong

Singkat cerita, sampai juga kami di jalanan permukiman Srandil yang masih asri. Terus melaju hingga kami tiba di gerbang pintu masuknya.

Terlihat di sana, wisatawan sudah mulai antre memasuki kawasan Pantai Sodong. Para petugas yang berjaga sibuk melayani dan mengarahkan para pengunjung. Awalnya saya juga terpikir untuk berhenti, basa-basi tanya tarif parkir sepeda, tapi kemudian sepupu menyahut, “Jalan saja, kan nanti kita dikira orang sini.”

Benar saja, akhirnya kami berhasil masuk ke kawasan Pantai Sodong tanpa perlu merogoh saku, hehe …

jalan masuk menuju kawasan wisata Pantai Sodong
jalan masuk menuju kawasan wisata Pantai Sodong
jalan berpasir menuju Pantai Sodong
jalan berpasir menuju Pantai Sodong

Menjumpai Keramaian

Kami berdua masuk ke area pantai. Lengang. Warung-warung dan gazebo belum semua terisi pengunjung. Di bibir pantai pun demikian, belum banyak wisatawan yang terlihat. Kami pun melanjutkan bersepeda menuju barat, menyusuri jalanannya yang masih berupa pasir.

Tonton videonya di YouTube

Semakin ke barat, mulai tampak warung-warung besar di kanan-kiri jalan, juga beberapa sarana wisata buatan warga setempat. Dan begitu kami tiba di area parkirnya, BUM!, tumpah ruah para wisatawan akhirnya terlihat. Ramai sekali. Malah lebih mirip pasar daripada pantai.

***

Kami memarkirkan sepeda di pojokan, lalu berjalan menuju pantainya. 

Beberapa waktu lalu, kami sekeluarga juga pernah mengunjungi pantai ini, tapi ketika air laut sedang surut. Saya ingat saat itu kami bisa berjalan-jalan di tepian pantainya hingga ke sisi tebing yang berada di ujung. Namun, sekarang kebetulan air laut sedang pasang. Terlihat beberapa orang menawari para pengunjung yang lewat untuk berkeliling naik perahu.

Bingung mau apa lagi di sini, akhirnya kami berbalik, mencari alternatif hiburan lain.

Belajar Banyak di Konservasi Penyu Cilacap

Seperti yang tadi sudah direncanakan, konservasi penyu memang sudah menjadi tujuan utama kami—kalau buka. Iya, kata sepupu, konservasi penyu ini hanya buka pada Sabtu dan Minggu, serta libur nasional. Oleh sebab itulah, sampai saat ini pun ia sendiri belum pernah memasukinya.

Kami keluar dari area Pantai Sodong dan kembali mengayuh sepeda. Pepohonan rindang menaungi kami di sepanjang jalan menuju konservasi penyu yang letaknya tak begitu jauh. Jalannya juga bagus, sudah diaspal. Memudahkan akses bagi para pengunjung.

Tak lama, kami tiba di halaman Konservasi Penyu Cilacap. Area parkirnya cukup luas, meski tempatnya sendiri, dari luar, tampak tidak begitu besar. Kami masuk.

halaman Konservasi Penyu Cilacap
halaman Konservasi Penyu Cilacap
pintu masuk Konservasi Penyu Cilacap
pintu masuk Konservasi Penyu Cilacap

Benar saja, tempatnya memang terhitung kecil. Meski begitu, lingkungan di sini bersih dan tertata rapi. 

Pada awal-awal kami masuk, semua tampak biasa saja. Hanya cukup senang karena bisa melihat dan menyentuh langsung tukik-tukik dan penyu yang berada di kolam penangkaran.

Tonton videonya di YouTube

Lalu, saat saya sedang asyik membaca sejumlah informasi yang tertulis di papan, datang seorang bapak-bapak, usia sekitar 30—40-an, menyambut dengan ramah dan mulai berbagi cerita …

***

Beliau bercerita, dulu, masyarakat sekitar apabila menemukan telur-telur penyu, mereka akan mengonsumsi atau menjualnya. Padahal, keberadaan penyu adalah pertanda bagusnya ekosistem suatu pantai.

Sekali bertelur, seekor penyu memang bisa menghasilkan ratusan butir, tapi hanya sebagian kecil saja yang bisa tumbuh dewasa. Usia penyu juga tergolong tua, puluhan tahun, tapi seingat saya (dari penuturan beliau), masa reproduksi mereka hanya sebentar—atau bahkan satu kali(?). Karena alasan itulah keberadaan penyu harus terus dilestarikan.

Berawal dari situ, beliau dan beberapa orang kawan tergerak untuk mengedukasi masyarakat sekitar dengan melakukan pendekatan secara bertahap. 

Awalnya, masyarakat diajak untuk menyerahkan telur-telur penyu yang mereka temukan, ke penangkaran. Sebagai imbalan, mereka akan diberi sembako dll. Kemudian, bila telur-telur itu telah menetas dan menjadi tukik, mereka akan diajak kembali untuk melepaskan tukik-tukik tersebut ke laut. 

Biasanya, pada saat momen pelepasan ini, bupati dan para perangkatnya juga diajak.

Tujuannya? Membangun rasa bangga, apresiasi, dan rasa hormat pada diri sendiri karena telah berpartisipasi langsung dalam melestarikan ekosistem laut. 

Dari hal-hal sesederhana itulah, kesadaran perlahan tumbuh. Bahkan, beberapa warga ada yang sampai tidak mau lagi menerima imbalan apa pun, ujar beliau. Tulus, murni dari kesadaran pribadi.

kolam penangkaran penyu
kolam penangkaran penyu

Beliau kembali melanjutkan, bahwa antara bulan Mei hingga Agustus merupakan musim bertelur penyu. Mereka akan bertelur saat musim kemarau. Dan kebetulan, kami berkunjung di bulan yang tepat. 

Beliau bilang, pada bulan-bulan itu, beberapa hari sekali biasanya akan diadakan patroli malam untuk mencari sarang dan telur-telur penyu. Yang lebih menariknya lagi, pihak konservasi akan memfasilitasi acara kemah bagi siapa saja yang berminat ikut patroli, berjalan menyisir pantai. Biasanya yang ikut dari kalangan mahasiswa. Menemukan penyu sedang bertelur adalah momen langka, kata beliau sembari tersenyum teduh.

Selain kegiatan-kegiatan yang diikuti mahasiswa, tutur beliau, konservasi ini juga biasa dijadikan wisata edukasi untuk anak-anak usia TK hingga sekolah dasar.

Di hadapan beliau yang sedang bercerita panjang lebar, kami berdua tentu saja tertarik sekaligus penasaran. Kapan lagi bisa menyaksikan langsung penyu-penyu sedang bertelur?

pemanfaatan donasi pelestarian penyu
pemanfaatan donasi pelestarian penyu

Oh, ya, beliau juga menambahkan, sewaktu Presiden Joko Widodo datang berkunjung pada acara pelepasan penyu di Cilacap, beliaulah yang ditunjuk langsung untuk mendampingi Presiden. Suatu kebanggaan tersendiri buat beliau.

Di akhir pertemuan, kami akhirnya saling berkenalan. 

Buat kalian yang barangkali hendak berkunjung ke sini, ingat-ingat, nama beliau adalah Bapak Jumawan. Kalau kalian ingin mengetahui lebih banyak seputar dunia penyu ataupun ikut mencoba pengalaman berkemah dan patroli malam, langsung temui saja beliau.

Mari Berpartisipasi Demi Penyu yang Kian Lestari

Kalau kalian berkunjung ke sini, sebelum keluar, jangan lupa sisihkan sebagian uang kalian sebagai donasi untuk penangkaran. Bisa juga dengan membagikan kegiatan-kegiatan yang dibagikan oleh pihak Konservasi melalui akun Instagram resmi mereka. (scroll ke bawah)

***

Panas matahari mulai menyengat. Jam sudah menunjukkan pukul 10. Selepas pembelajaran hebat di konservasi penyu ini, yah, kami sadar, mau tidak mau kami harus kembali mengayuh sepeda sejauh 15-an km di bawah matahari yang semakin terik …

Bagaimana, apa kalian juga tiba-tiba ikut tertarik dan penasaran ingin berkunjung ke sini, sekaligus berkemah?

Atau kalian punya pengalaman seru lainnya saat berwisata di Cilacap?

Ceritain di sini, yuk!


Informasi, Lokasi, dan Ulasan Pantai Sodong

AlamatJl. Laut, Sawah, Ladang, Karangbenda, Kec. Adipala, Kab. Cilacap, Jawa Tengah – 53271
Jam BukaSenin—Minggu: 08.0018.00
Harga Tiket MasukRp13.000
Parkir
– MotorRp3.000
– MobilRp5.000
Bila membutuhkan informasi seputar pariwisata Cilacap, kalian bisa langsung mengunjungi situs resminya di sini.
Kalian bisa melihat ulasan saya di Google Maps beserta foto-foto Pantai Sodong di sini.

Informasi, Lokasi, dan Ulasan Konservasi Penyu Cilacap

AlamatJl. Seloka Maya, Sawah, Ladang, Karangbenda, Kec. Adipala, Kab. Cilacap, Jawa Tengah – 53271
Jam BukaSabtu & Minggu: 07.0017.00
Harga Tiket MasukGRATIS
Parkir
– Motor?
– Mobil?
Bila membutuhkan informasi lengkap tentang kegiatan di Konservasi Penyu Cilacap, kalian bisa langsung mengunjungi akun Instagram mereka.
Silakan lihat ulasan dan foto-foto saya mengenai Konservasi Penyu Cilacap di Google
Artikel SebelumnyaWisata Literasi di Perpustakaan Tertinggi
Artikel BerikutnyaDestinasi Lima Tahun Silam: Tangkuban Perahu

Tinggalkan Komentar