Selepas shalat Subuh dalam dinginnya bumi Temanggung, saya bergegas menuju sepeda motor saya yang terparkir, siap untuk dipanaskan. Selasa, 4 Mei 2021 sepertinya akan menjadi salah satu hari yang paling saya nantikan. Dan bisa jadi hanya ini kesempatan yang saya miliki, untuk pergi menuju sebuah destinasi yang sudah lama saya impikan.

Pengaruh Kuat Sebuah Cerita

Sesuatu yang membuat saya tergerak ketika itu adalah cerita. Berawal dari cerita satu orang, kemudian yang lain membenarkan, yang setelahnya lagi menguatkan, ditambah bukti berupa foto-foto; semua itu benar-benar memantapkan kaki saya untuk, bukan melangkah, tapi menginjak pedal gas. Hehe …

Kalau kalian sering berwisata di daerah Temanggung dan sekitarnya, destinasi yang saya tuju ini bukan lagi sebuah tempat yang asing. Namun, itulah rasa penasaran, banyak orang yang sudah sering melihat gambarnya, tapi belum pernah langsung mengunjunginya. Itu juga yang saya rasakan saat itu. Tak peduli seberapa mainstream-nya tempat tersebut, yang jelas, pagi itu, saya harus ke sana!

Berpacu dan Saling Membalap

Saya sudah memperkirakan akan sampai di lokasi tersebut sekitar dua puluh menit. Jalan Raya Temanggung-Parakan yang pagi itu jelas masih sepi, semakin meyakinkan saya bahwa saya akan sampai tepat waktu. Motor sudah dipanaskan, dan sebuah tas kecil berisi HP dan powerbank juga sudah siap.

Motor saya melaju, membelah lengang dan heningnya jalanan di waktu fajar.

Rutenya sebetulnya mudah, tidak ada belokan sama sekali. Tapi yang paling saya perhatikan adalah pintu masuknya. Ya, saya tidak ingin bila nanti harus putar balik terlalu jauh. Maka dari itu, saya meletakkan tas kecil saya tepat di antara kedua paha, kemudian menyandarkannya di atas tangki—motor saya GL200.

Untuk apa? Melihat Maps. Haha, terbayang ya betapa ribetnya.

Di sepanjang perjalanan, saya berkali-kali harus menundukkan kepala, sekadar untuk mengintip Maps, apakah sudah semakin dekat atau belum. Terlebih dengan jalannya yang menanjak, yang membuat tas saya lebih berisiko untuk jatuh.

Akan tetapi, ada benda lain yang juga terus saya perhatikan, yaitu jam tangan. Saya sedang berpacu dengan waktu. Karena itu, sebisa mungkin jangan terlambat. Ini kesempatan pertama saya.

Terdengar dramatis? Nyatanya, memang itu yang saya rasakan. Saya akui itu.

Mengaku Kalah

Apa yang saya takutkan sejak awal berangkat ternyata benar. Maps menunjukkan sebuah jalan—lebih tepatnya gang—yang harus saya masuki. Apa yang saya takutkan itu adalah, di ujung gang tersebut tidak ada plang atau papan penanda bertuliskan nama tempat wisata yang dituju. Hanya sebuah gapura kayu berukuran kecil. Mungkin sudah cukup sebagai pertanda kalau ia adalah pintu masuk lokasi wisata, tapi sebenarnya masih belum. Masih kurang terlihat. Beruntung sedari awal saya sudah memakai Maps.

Tiket masuk seharga Rp20.000 sudah saya bayar. Kemudian, saya melihat medan yang akan saya lalui: sebuah jalan berbatu selebar sekitar 2 meter, dan sedikit menanjak sejauh 3 km. 

Melihat semburat cahaya mentari yang perlahan mengenai telapak tangan, saya akui, saya kalah. Saya kalah berpacu dengan waktu. Kali ini saya harus bersikap realistis. Kondisi jalan yang akan dilalui benar-benar tidak memungkinkan saya untuk sampai ke atas sana tepat waktu. Saya kehilangan kesempatan pertama, dan saya harus menerimanya

Namun, di balik secuil kekecewaan itu, ada hal besar yang amat patut untuk disyukuri: saya bisa menikmati keindahan alam di pagi yang tenang, di sebuah tempat yang sudah lama saya impikan.

Keindahan alam itu bernama sunrise, dan tempat itu bernama Posong.

sunrise di Taman Wisata Alam Posong, Temanggung, Jawa Tengah

Tak Harus Mendaki Terlalu Tinggi

Ada banyak sekali hal sederhana yang bisa kita nikmati, tapi seringnya justru terabaikan. Contoh dalam cerita ini, matahari terbit. Ia menyapa kita setiap pagi, tapi kebanyakan dari kita justru mengabaikan kehadirannya.

Memang ada mentari yang tampak lebih indah di puncak gunung sana. Namun, untuk apa yang sudah kita dapatkan selama ini, cobalah untuk mensyukuri itu.

Naiklah perlahan. Ada hasil yang lebih, untuk usaha yang juga lebih.

Kalian punya cerita lain di kawasan Wisata Alam Posong atau cerita berburu sunrise di tempat lain? Ceritain, yuk! Mari, semarakkan pariwisata Nusantara melalui cerita.


Sedikit Catatan:

  • waktu tempuh 20 menit itu dihitung dari titik start saya, di Jl. Kemiri-Salamsari, Kedu.
  • Saya sudah berangkat sepagi itu saja sudah kena biaya tiket masuk, karena Taman Wisata Alam Posong sudah buka mulai pukul 4 pagi. Iya, bagi kalian yang suka bela-belain berangkat awal supaya bisa masuk gratis, sayang sekali, di sini penjaganya bangun lebih pagi.

Informasi, Lokasi, dan Ulasan Taman Wisata Alam Posong

AlamatLegundi, Batursari, Candiroto, Kec. Kledung, Kab. Temanggung, Jawa Tengah
Jam BukaSenin—Minggu: 04.0016.30 (bisa berubah sewaktu-waktu)
Harga Tiket MasukRp20.000
Parkir
Motor: Rp3.000
Mobil: Rp6.000
Bila ingin mendapatkan informasi lebih lengkap seputar pariwisata Temanggung, kalian bisa langsung mengunjungi situs resminya di sini.
Berikut ulasan ringkas saya tentang Taman Wisata Alam Posong di Google.
Artikel SebelumnyaBreksi yang Pandai Merias Diri
Artikel BerikutnyaPengalaman Baru di Kota Lama

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here