Dlingo masih tampak asing. Bagi saya pribadi, meski asli Jogja dan tinggal di Jogja (Sleman), Dlingo tetap terasa asing. Ia terletak di Kabupaten Bantul, seperti Parangtritis. Namun, mungkin karena kalah pamor dengan Parangtritis itu sendiri atau eksotisnya pantai-pantai Gunungkidul, namanya seakan terasing, bahkan untuk warga Jogja itu sendiri.

Berani Meninggalkan Keramaian

Kebanyakan dari kita biasanya, bila hendak liburan, akan mencari destinasi yang sedang ramai di medsos, terpopuler, atau—dan ini yang biasanya menjadi prioritas—Instagrammable. Kadang ada keinginan untuk mencari tempat yang “sepi”, tapi sebetulnya itu tidak benar-benar sepi. Bisa jadi karena itu adalah sebuah destinasi eksklusif sehingga tak bisa dikunjungi sembarang orang, atau bisa jadi pula itu adalah destinasi yang sudah populer, tapi hanya kebetulan kita mengunjunginya di waktu sepi.

Pertanyaan terbesarnya: Beranikah kita pergi meninggalkan keramaian? Tidak mengikuti tren, tapi memilih sendiri sesuai kehendak hati. Benar-benar ingin refreshing, bukan sekadar mencari spot foto menarik.

Saya dan kolega saya, Saiful, memberanikan diri untuk melakukannya pada Jumat, 25 Desember 2020.

Sebuah postingan di Facebook menjadi awal mula rencana perjalanan kami. Di laman tersebut, sebuah akun mem-posting destinasi wisata kecil-kecilan. Air terjun kecil dengan kolam yang bisa digunakan untuk berenang. Terlihat segar dan menarik, terlebih kami berdua memang sudah lama sekali tidak berenang.

Tepat ketika jalanan sudah dipadati orang-orang yang ingin memulai aktivitas, kami melesat menuju selatan. Meninggalkan keramaian kota Yogyakarta.

Masih Asri

Jika dari kota, bagi kami, ancar-ancar yang paling mudah dan jelas adalah Kantor Kecamatan Dlingo. Letaknya seingat saya ada di tepi sebuah persimpangan. 

Dlingo sendiri, kalau kalian perhatikan, mayoritasnya berupa daerah perbukitan. Jalanan di sana meliak-liuk naik-turun, dengan pemandangan yang segar dan sejuk.

Tiba di depan Kantor Kecamatan Dlingo, kami menyusuri sebuah jalan kecil. Tidak terlalu kecil, seperti jalan kampung; dan semakin kecil ketika sudah memasuki perkampungan. Sebuah jalan semen berbatu. 

Kami langsung menyimpulkan: Tidak direkomendasikan untuk mobil, meski terlihat jelas kalau di jalan itu terdapat jalur ban mobil. Mungkin memang bisa dilalui mobil, tapi akan sulit bila tempat ini sedang ramai. Letaknya berada di perkampungan. Jadi, jika kalian ingin ke sini, sebaiknya naik motor saja.

  • pintu masuk Air Terjun Lepo, Bantul
  • jalan setapak menuju Air Terjun Lepo, Bantul
  • tangga menuju Air Terjun Lepo, Bantul
  • kolam Air Terjun Lepo, Bantul
  • kolam atas Air Terjun Lepo, Bantul
  • kolam bawah Air Terjun Lepo, Bantul

Kalau kalian ingin melihat foto-foto lainnya, beberapa sudah saya arsipkan di sini dan di sini.

Tentang Lepo

Seperti surga yang tersembunyi—dalam skala yang lebih kecil. Itu yang ada di benak kami saat pertama kali melihat Air Terjun Lepo ini. Dikelilingi pepohonan rimbun, anak tangga dari bebatuan yang tersusun rapi, juga kolamnya yang tampak begitu segar. Airnya berwarna biru muda pekat, dengan tepian berupa batu kapur.

Kami mencoba menjelajah sekitar, melihat lagi lebih jauh. Apa yang kami dapati ternyata bukan hanya satu kolam besar yang ada di paling atas. Di bawah, masih ada dua kolam lagi. Hanya saja, karena semakin ke bawah, aksesnya juga semakin sulit dilalui. Kami hanya bisa sampai di kolam kedua.

Mengenai fasilitas di Air Terjun Lepo ini kami rasa masih kurang memadai. Belum cukup untuk bisa dikatakan sebagai tempat wisata, tapi entah kalau sekarang. Waktu itu memang sudah ada warung-warung kecil dan persewaan ban. Namun, untuk bangunan mushala dan kamar mandi, seperti masih belum selesai dibangun.

Kapan Pun, Di Mana Pun

Melihat segarnya Air Terjun Lepo ini, lama-lama membuat kami tak sabar untuk ingin menceburkan diri. Terlebih, ketika itu awalnya hanya ada kami berdua, belum ada pengunjung lain. Kami segera melepas pakaian, menitipkan barang bawaan di warung, lalu nyemplung. Terjun dalam sebuah keterasingan. 

Tak salah, airnya memang sangat segar. Berenang lama di sini pun tak akan terasa. Akan tetapi, ada satu hal yang membuat kami penasaran: kedalamannya. 

Untuk kolam bawah, di situ aman. Bentuknya yang memanjang, airnya yang jernih dan dangkal, serta guyuran air terjun yang berada di ujungnya; semua itu jelas aman dan sangat cocok bagi anak-anak.

Namun, berbeda dengan kolam atas. Di situ memang tampak lebih tenang, tapi airnya lumayan pekat sehingga tidak terlihat jelas seberapa dalam kolam itu. Saya pun mencoba berenang di tengah-tengahnya, lalu menyelam. Saya mengangkat tangan ke atas, dan ternyata menyisakan setengah dari tangan saya (hasta). Tinggi saya sekitar 175 cm, itu berarti kedalamannya sekitar 2 m. Jelas tidak aman untuk anak-anak.

Karena itu, bukan hanya di wisata Air Terjun Lepo, tapi juga di tempat lain: selalu utamakan keamanan. Cari informasi dan kalau bisa, cek sendiri; apakah destinasi yang akan kalian kunjungi itu aman untuk kalangan tertentu, seperti lansia dan anak-anak.

Tak mengenal waktu dan tempat, liburan kita harus selalu aman dan nyaman. Setuju?

Kalian pernah mengunjungi destinasi menarik lain yang ternyata masih tersembunyi? Di mana? Ceritain, yuk!


Informasi, Lokasi, dan Ulasan Wisata Air Terjun Lepo

AlamatDsn. Pokoh, Ds. Dlingo, Kec. Dlilngo, Kab. Bantul, DIY
Jam BukaSenin—Minggu: 07.0017.00
Harga Tiket MasukRp2.000 (waktu itu)
Parkir
Motor: Rp3.000
Mobil: Rp5.000
Bila kalian membutuhkan informasi yang lebih lengkap tentang pariwisata Bantul, silakan langsung kunjungi situs resminya di sini.
Berikut ulasan ringkas saya tentang Air Terjun Lepo di Google.
  • KONTRIBUTOR TERCINTA
  • Admin
Artikel SebelumnyaPengalaman Baru di Kota Lama
Artikel BerikutnyaMeliburkan Pikiran di Embung Nglanggeran

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here