Selepas berenang di kolam Air Terjun Lepo, kami berjalan menaiki anak tangga, menuju mushala dan kamar mandi yang letaknya berada di atas. Barang-barang yang sebelumnya kami titipkan di warung sudah kami ambil. Kami bermaksud istirahat sejenak, untuk selanjutnya pulang ataukah melanjutkan perjalanan, itu semua belum kami putuskan.

Keputusan di Tengah Jalan

Keluar dari kawasan wisata Air Terjun Lepo, kami sudah tepat berada di sebelah Kantor Kecamatan Dlingo yang lokasinya berada di persimpangan. Kami tetap berjalan, belum memutuskan. Keputusan itu sendiri baru diambil ketika kawan saya, Saiful, sebelum tiba di Air Terjun Lepo tadi, melihat plang arah menuju wisata lain yang kelihatannya menarik untuk dicoba.

Wisata tersebut letaknya tidak terlalu jauh dari lokasi Air Terjun Lepo. Jarak perjalanan sekitar 40 menitan lebih. Kalau dilihat dari Maps, jaraknya relatif dekat. Meski begitu, wisata tersebut sudah masuk ke wilayah kabupaten yang berbeda. Ia masuk ke wilayah Kabupaten Gunungkidul.

Akhirnya, kami memutuskan untuk pergi ke sana, tidak jadi pulang.

Jangan Terlalu Cepat Berburuk Sangka

Di sepanjang perjalanan menuju destinasi tersebut, kami selalu menggunakan Maps sebagai penunjuk jalan. Rute yang kami ambil sejauh ini sudah benar; kami tidak nyasar. Kebetulan jalannya juga lebar dan jarang sekali ada persimpangan. 

Namun, di tengah perjalanan, secara tiba-tiba seorang bapak menghentikan laju motor kami. Ia sebelumnya sedang duduk di sebuah pos ronda yang berada di tepi jalan. Dari kejauhan, ketika ia melihat kami yang jelas sekali terlihat seperti pengunjung, mendadak ia melambaikan tangan dan memanggil.

“Mau ke Gua Pindul?”

“Iya, Pak,” kami menjawab bergantian.

Begitu mengetahui tebakannya benar, ia segera kembali ke pos rondanya, melipat spanduk bertuliskan “Wisata Gua Pindul” yang sebelumnya terpampang di tepi jalan, dan masuk ke dalam rumah.

“Kurang ajar, calo ini kayaknya.” Kami berdua sepakat.

Kami saat itu masih diam di tempat, tidak langsung kabur. Kami hanya merasa tidak sopan saja kalau tiba-tiba langsung pergi.

Tak lama, si bapak itu kembali. Ia berkata kalau jalan yang akan kami ambil sedang tidak bisa dilalui. Karena itu, ia akan mengantar kami melewati jalan lain. Untuk meyakinkan kami, si bapak berkata dengan mantapnya, kalau ia tidak akan meminta bayaran. Menarik. Akhirnya, kami mengikuti si bapak. 

Baru melaju beberapa kilometer, Maps yang dari tadi masih aktif ini menunjukkan kalau jalan yang sebelumnya hendak kami ambil tersebut bisa dilalui. Tidak seperti apa yang dikatakan oleh si bapak.

“Pokoknya kalau sampai sana minta bayaran, awas, sumpah.” 

Serius, kami benar-benar sudah berniat akan menghajarnya, karena di awal ia sudah bilang tidak akan meminta bayaran.

Singkat cerita, kami telah memasuki kawasan wisata Gua Pindul. Pengecekan KTP dan prosedur prokes tempat wisata sudah beres. Kami segera masuk, masih mengikuti si bapak. Ia terus menuntun kami hingga tiba di sebuah base yang waktu itu cukup ramai, banyak mobil terparkir berderet. Sepertinya hanya kami yang menggunakan motor. 

Ternyata, tempat itu merupakan salah satu pengelola wisata yang ada di kawasan tersebut. Kedunggupit Adventure namanya. Si bapak tak berhenti menuntun dan mengajak kami hingga tiba di depan loket. Sebelumnya, ia sempat menjelaskan beberapa pilihan paket wisata yang ada di sini, menerangkan semua yang kami tanyakan. Setelahnya, kembali menuju loket dan memberi tahu kedatangan kami.

Tak ingin buang-buang waktu (saat itu sudah pukul 1 siang), kami langsung memilih paket wisata untuk pribadi (bukan rombongan). Dengan rute terpendek dan waktu tersingkat—sekaligus termurah. 

Sebenarnya memang ada beberapa pilihan paket, tapi melihat estimasi waktu tempuhnya (tertulis di samping harga paket, seingat saya), kami memilih yang paling singkat. Hanya dua jam.

Usai membayar tiket dan menitipkan barang, kami berembuk: Beri saja bapak itu “uang bensin”, ia sudah mengantar sampai sejauh ini. Meski si bapak tampak tidak meminta, kami tetap akan memberinya “uang bensin”

Ketika saya mendatangi si bapak dan menanyakan biaya antarnya, jawaban darinya sungguh membuat kami malu. Ia benar-benar tidak meminta bayaran. Sekian kali dibujuk, sekian kali itu pula si bapak menolak. Terlihat dari raut mukanya, kalau ia memang hanya menjalankan tugasnya. Ia tetap menolak.

Mungkin memang sudah ada bayarannya sendiri kali ya? “Karyawan” di sini, maksud kami.

Namun, bagaimanapun juga, kami tetap menyerahkan “uang bensin” itu; dan kami benar-benar malu. Tadi kami sudah mantap ingin menghajarnya.

Lanjut ke Gua Pindul.

  • KONTRIBUTOR TERCINTA
  • Admin
Artikel SebelumnyaMeliburkan Pikiran di Embung Nglanggeran
Artikel BerikutnyaDua Kilometer yang Tenang dan Menghanyutkan – Bag. 2

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here